Renungan

07.23


Pagi ini selepas adzan Subuh dan mengambil air wudhu, sembari menunggu ibuku untuk berjamaah - sambil merenung setengah terkantuk-kantuk terlintas dipikiranku beberapa moment yang membuat hatiku bergetar.

Bukan, bukan karena itu moment bahagia ataupun sedih. Entah mengapa sepertinya pagi ini Tuhan ingin sekali menggodaku dan membuatku tersadar jika ternyata akhir-akhir ini aku terlalu sombong karena jarang meminta kepadanya sehabis menunaikan kewajibanku.

Ya, pagi ini tiba-tiba tersadar jika aku terlalu cepat melipat mukenahku tanpa memanjatkan doa yang pasti kepadanya. Aku terlalu sombong sebagai makhluk paling kecil di dunia ini dengan menganggap Tuhan maha tau tanpa aku harus meminta kepadanya.

Jadi bagaimana permintaanku terkabulkan jika akupun tidak pernah meminta, bahkan memberi kode kepadanyapun jarang. Apa ini namanya pasrah? Tentu bukan. Lebih tepat ini adalah malas dan sombong. Malas untuk meluangkan waktu barang 5menit untuk dapat berinteraksi intim dengan-Nya dan sombong karena menganggap semua pasti berjalan sesuai dengan rencanaku, dan harus sesuai rencanaku. 

Aku sesaat terlupa jika kita hidup di dunia ini menggunakan alat doa dan usaha. Doa terus menerus tanpa usaha juga tak membuahkan hasil, begitu juga sebaliknya. Tidak ada kata berhasil jika kita hanya terus berusaha tanpa pernah berdoa kepada-Nya. Apalagi jika tidak melakukan keduanya? 

Mungkin ini yang menjadi keresahanku akhir-akhir ini. Terlalu memusingkan suatu hal hingga lupa akan namanya berdoa. Terlalu memusingkan hubungan antara sesama manusia hingga lupa hubunganku dengan Tuhan. Terlalu takut ditinggalkan oleh seorang manusia hingga lupa bahwa ditinggalkan-Nya adalah masalah yang paling pelik di dunia dan akhirat.

Belum saatnya untuk pasrah karena kenyataanya usahaku belum maksimal. Tuhan, kupanjatkan kembali rasa syukurku, permintaan maaf dan keluh kesah dengan segala permohonan kepadaMu. Berharap engkau membalas komunikasi ini.

You Might Also Like

1 komentar

Instagram