Rindu Datang Kapan Saja

09.19

Ceritanya, pada suatu siang aku sedang melakukan project untuk foodyfloody. Salah satu tempat yang aku datengi merupakan kuliner soto legendaris yang cukup terkenal di Malang yang akrab disebut Rawon SBY atau Soto Rampal.

Panas banget saat itu pukul 13.00 aku sudah kelelahan setelah sebelumnya ada dua tempat yang sudah aku datangi bersama Mas Alfan yang merupakan kontributor majalah di Surabaya yang kebetulan memang sedang mencari kuliner legendaris Malang untuk mengisi konten di majalah tersebut. 

Setelah memarkirkan sepeda motor dan memesan menu berupa satu porsi soto daging, kami duduk di bagian teras rumah belakang dari Soto Rampal ini sambil menyeruput satu botol es teh. Surga dunia di tengah teriknya matahari.

Sambil menunggu pesanan kita datang, aku mencoba memasuki rumah yang masih mempertahankan struktur bagunan rumah jaman dahulu sembari melihat-lihat foto yang di pajang di tembok rumah. Wah, Pak SBY pernah kesini! Ternyata rumah itu besar ke belakang lengkap dengan perabotan khas ala rumah nenek.

Setelah melihat-lihat dan menghabiskan semangkuk soto daging, yang aku lakukan hanya duduk melihat-lihat sekeliling. Nampak dari tempat kita duduk, dapur dengan kompor kayu masih mengepul dengan panci-panci besar diatasnya dan terlihat dua orang ibu sedang memotong-motong daging.

Sedikit melamun, melihat keadaan itu aku jadi teringat dengan rumah mbah putri dari Ibuku di Kediri. Beliau sudah tiada pada Desember 2015 setelah sebelumnya Mbah kung wafat pada tahun 2010. Kedekatanku dengan mereka berdua sangatlah dekat. Meski aku memiliki dua orang adik perempuan, yang selalu ditanyakan dan dicari adalah aku, yang selalu di bawa kemana-mana adalah aku. Bahkan yang mengasuhku sedari lahir hingga akhirnya aku pindah ke kota Malang dan ketika aku ditinggal orang tuaku untuk pergi keluar negeri selama beberapa bulan adalah mbahku yang dengan cepat datang ke Malang untuk menjagaku dengan adik-adik.

Jika hari besar tiba, rumah mbah ku selalu ramai orang datang. Apalagi dengan memiliki anak 8 orang, tentu tidak bakal sepi dari riuhnya canda tawa anak dan cucu yang kebanyakan datang dari luar Kediri. Bagian dapur adalah tempat yang paling tidak pernah sepi. Mbahku masih mempertahankan menggunakan dapur dengan kompor kayu dan panci-panci besar. Beberapa "rewang" juga dipekerjakan mbahku untuk membantunya memasak. Padahal beliau memilik 2 orang anak wanita dan banyak cucu perempuan yang siap membantu, tapi katanya "biarkan saja rewang-rewang itu yang kerja. Masa jauh-jauh kesini malah sembunyi di dapur". Suasanya persis sekali dengan apa yang aku liat di dapur Soto Rampal ini. Dua orang ibu yang sedang memotongi daging dan seorang lagi berdiri wara wiri melihat masakanya di tungku. Mbahku hobi sekali memotong satu ekor sapi atau kambing jika hari besar, untuk di makan rame-rame dengan keluarga super besar kami dan puluhan pekerja sawahnya.

Lekukan rumah mbahku juga hampir sama dengan rumah di Soto Rampal ini, besar ke belakang dengan ruang tamu yang di hiasai lemari bening berisi berabotan tidak jelas. Sungguh aku tidak paham apa yang ditaruh disini bahkan di lemari mbahku di Kediri. Aneka barang pecah belah, perisai, piringan, semua ditaruh jadi satu. Di ruang tamu ini, diletakkan sebuah "amben" dalam bahasa jawa atau tempat tidur kecil yang terbuat dari bambu. Di tempat tersebut Mbah Kung ku biasanya menghabiskan waktunya baik itu bersantai setelah kerja di sawah atau tidur pada malam hari sembari menunggu semua orang dirumah tidur dan beliau yang mematikan lampu untuk diganti dengan lampu "panjeran" sambil mendengarkan channel RRI melalui radio hitam berbentuk persegi yang bisa di bawa kemana-mana. Rindu....

Rasa berdosa dan bersalah sering datang kalau aku mengingat tidak banyak waktu yang aku habiskan dengan mereka berdua di akhir hidupnya. Aku sangat jarang ke Kediri karena kesibukanku di Malang. Abahku juga melarangku untuk pergi kesana sendirian, padahal aku sangat rindu dengan mereka. Hingga pada akhir waktunya, aku tidak berada disamping mereka berdua karena aku disuruh mengurus rumah sedangkan ibuku yang bergantian dengan anak-anaknya mbah yang lain yang bergantian jaga di rumah sakit. Aku hanya sempat mendapatkan firasat sehari sebelumnya saat mbah Kung ku akan dipanggil keatas, Aku bermimpi dengan posisiku yang tidur karena ketiduran, beliau yang di kehidupan nyata sudah renta terbaring di kasur rumah sakit dan tidak dapat melakukan aktivitas apapun, tiba-tiba datang kerumah melalui pintu ruang tamuku dengan kondisi bugar dan melompat-lompat kegirangan seperti anak kecil. Gak disangka itu menjadi "pertemuan" terakhir aku dengan beliau.

Semakin menyesal ketika aku tau rumah itu di renovasi, dihancurkan, karena sudah tidak ada yang menempati. Rumah tersebut terlalu besar untuk dibiarkan kosong, dan dirasa sudah sangat rapuh bagi sebagian anak-anak mbahku. Ibuku beserta saudaranya yang wanita pada awalnya keukeuh mempertahankan rumah tersebut, namun harus rela dengan suara terbanyak saat rapat keluarga. Hilang sudah kenangan berlari-lari dirumah itu, tidur berdempetan didepan TV dengan saudaraku yang lain saat mudik, pintu samping yang selalu cepat terbuka ketika mbahku mendengar mobilku datang meskipun sudah larut malam dan dengan senyum lebar menyambut kami yang datang, dan tentunya dapur yang penuh dengan aroma blarak terbakar kini sudah hilang rata berganti pondasi-pondasi baru.

Melamunku usai ketika mas Alfan mengingatkan bahwa jam sudah penunjukkan pukul 15.00 yang artinya warung akan tutup. Padahal aku masih ingin disitu mengamati aktivitas di dapur dan duduk santai sambil menunggu cuaca tak lagi terik. Dengan malas aku menuju kasir untuk membayar bill dan dikejutkan dengan angka 132.500 yang harus kita bayar untuk satu mangkuk soto daging dan 3 side dish berupa babat, otak, dan paru goreng.

You Might Also Like

0 komentar

Instagram